Avatar for ayiz

Jadi SPG, awalnya coba-coba akhirnya ketagihan

Jadi SPG, awalnya coba-coba akhirnya ketagihan

Berparas menarik, bertubuh ideal jadi modal dasar untuk menjadi sales promotion girl (SPG). Begitulah penuturan Ndari (19), seorang SPG.

spg

spg

Karena memiliki paras cantik dan tubuh menarik, mahasiswa sebuah universitas swasta di kawasan Cikini ini ditawari menjadi seorang SPG oleh rekannya. Kini, hampir 2 tahun sudah ia melakoni profesi ini.

"Tadinya cuma iseng sekadar mencari uang sampingan buat nambah biaya kuliah, eh ternyata keterusan sampai sekarang," ujar Ndari kepada merdeka.com, Sabtu (5/5).

Ndari, kini menjadi SPG sebuah produk rokok. Seminggu empat kali dia harus berkeliling tempat hiburan untuk menawarkan produknya.

Ndari mengaku awalnya sekadar coba-coba terjun menjadi SPG. Saat itu, seorang kawan mengajaknya menjadi SPG dalam acara Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Kemayoran. Karena menguntungkan, kini Ndari kerap ditawari supervisornya bila ada event tertentu.

"Lumayan sebulan gajinya bisa Rp 1,5 juta, belum sama bonus-bonusnya. Tetapi belum mesti juga kalau bonus," terang wanita berambut sebahu itu.

Meski awalnya coba-coba, kini Ndari merasa nyaman dengan pekerjaan yang ditekuni saat ini. Bahkan tak jarang bila ada event tertentu dia lebih memilih bolos kuliah atau titip absen demi mendapatkan rupiah.

"Abis gimana lagi, apa-apa di Jakarta sudah mahal. Perlu duit buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Alasan Ndari cukup rasional, saat ini dia hidup berdua dengan adiknya yang bekerja sebagai penjaga toko kosmetik di kawasan Jl Pemuda, Jakarta Timur. Selain untuk biaya kuliah, penghasilan menjadi SPG juga digunakan untuk membiayai kost dan kebutuhan hidup bersama adiknya.

"Maklum orang tua di kampung sudah tidak sanggup membiayai lagi, tetapi saya masih pengen kuliah," ujar wanita yang bercita-cita menjadi akuntan ini.

Namun, sejak mengenal Jakarta dengan gaya hidup yang hedon, wanita kelahiran Bumiayu, Brebes, Jawa Tengah ini mengaku menjadi rasional. Hidup di Jakarta menurutnya membutuhkan tiga hal.

"Di sini cuma butuh tiga hal, uang, uang dan uang titik. Karena tanpa tiga hal itu hidup di Jakarta bakal sulit," selorohnya.

Meski demikian, Ndari mengaku selalu menolak ajakan tidak senonoh yang selalu datang kepadanya. Menjadi SPG menawarkan rokok di tempat hiburan seperti tempat biliar, karaoke dan lainnya memang rawan digoda.

"Itu tergantung kitanya, kita bisa menolak kok. Toh kita kan tidak sendiri, sekali jalan kita empat sampai enam orang dan ada supervisor cowok kok, jadi aman," terangnya.

Saat menawarkan produk, Ndari mau tak mau berpakaian minim alias sedikit seksi. Menurutnya, hal ini adalah tuntutan profesi yang mesti dilakoninya.

Awalnya Ndari mengaku malu dan risih dengan profesinya, namun seiring perjalanan waktu, ia bisa meyakinkan hatinya bahwa apa yang dilakukan bukanlah hal yang memalukan.

"Tadinya malu dan takut kalau ketemu teman kuliah atau keluarga yang ada di Jakarta. Tetapi sudahlah, yang penting halal enggak apa-apa," terangnya.

"Kalau aku lulus aku pengen punya kerjaan yang lebih baik, dan ini jadi salah satu jaringan buat aku nantinya karena jadi punya banyak kenalan. Enggak mungkin aku terus menerus jadi SPG," tutup Ndari dalam sebuah perbincangan di tempat biliar di kawasan Warung Buncit.

#spg